Selasa, 02 April 2013

KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT


GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT



A.    Definisi
1.      Cairan tubuh adalah semua bahan menu yang merupakan zat cair yang terdiri dari air dan semua yang ada di dalamnya.
2.      Elektrolit adalah senyawa dalam tubuh yang mengurai dan ion-ion yang bermuatan listrik yang berfungsi mengatur keseimbangan asam dan basa membantu memindahkan cairan dan memungkinkan terjadinya impuls terhadap sel otot dan sel saraf.
3.      Keseimbangan adalah suatu perubahan yang terus menerus di dalam tubuh dengan daya dan kemampuannya berusaha mengalir dan mempertahankan pemasukan dan pengeluaran cairan tersebut.
4.      Kebutuhan cairan adalah suatu proses dinamika karena metabolisme tubuh membutuhkan perubahan yang tetap berespon terhadap stressor fisiologis dan lingkungan.

B.     Etiologi
1.      Kekurangan cairan dan elektrolit disebabkan oleh :
a.       Intake yang kurang
-          Kekurangan cairan peroral
-          Menjalankan diet tertentu
b.      Output yang berlebihan
-          Diare
-          Perdarahan
-          Luka bakar
-          Penyakit tertentu (DM)
-          Suhu lingkungan yang panas



2.      Kelebihan cairan dan elektrolit disebabkan oleh :
Intake yang berlebihan
-          Kelebihan cairan peroral
-          Cairan parenteral (infus berlebihan)

C.    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keseimbangan Cairan Dan Elektrolit
Antara lain :
-          Usia
-          Temperatur lingkungan
-          Stress
-          Sakit
-          Diare
-          Aktifitas

D.    Jumlah Cairan Tubuh Sesuai Keseimbangan
Bayi baru lahir    : Total cairan 80% dari BB
Bayi 3 bulan       : Total cairan 70% dari BB
Dewasa              : Total cairan 60% dari BB
Orang tua           : Total cairan 52% dari BB

A.    Pemasukan dan Pengeluaran
Rata-rata pemasukan dan pengeluaran pada orang dewasa selama 24 jam, yaitu :
1.      Pemasukan
1.      Cairan
2.      Air dalam makanan
3.      Air yang diproduksi oleh metabolisme
:
:
:
1.300 ml
1.000 ml
300 ml
+
Jumlah

2.600 ml





2.      Pengeluaran
1.      Urine
2.      Feses
3.      Paru
4.      Kulit
:
:
:
:
1.400 ml
100 ml
300 ml
600 ml
+
Jumlah

2.400 ml



A.    Fungsi Cairan Tubuh
1.      Sebagai zat pelarut utama dalam tubuh untuk melakukan zat kimia yang terdapat dari dalam tubuh.
2.      Air diperlukan oleh darah untuk proses sirkulasi O2 dan zat-zat makanan
3.      Air berguna dalam pembuangan sisa pembakaran melalui ginjal
4.      Air membantu melarutkan zat-zat pembakaran dari zat-zat racun lainnya
5.      Air mempertahankan konsentrasi cairan tubuhdan elektrolit
6.      Sebagai pengatur suhu tubuh

B.     Fungsi Elektrolit Dalam Tubuh
1.      Natrium (Na)
a.       Memelihara keseimbangan asam basa
b.      Mengatur volume cairan tubuh
c.       Membantu berlangsungnya banyak reaksi kimia khususnya dari dalam sel jaringan otot dan syaraf
2.      Kalium (K)
a.       Sebagai regulator utama bagi aktifitas enzim seluler
b.      Proses transmisi impuls syaraf
c.       Membantu penyaluran keseimbangan asam basa melalui pertukaran gas
3.      Kalsium (Ca)
a.       Transmisi impuls syaraf dan pertukaran darah
b.      Katalisis dalam kontraksi otot
c.       Membantu absorbsi vitamin B12
d.      Menguatkan tulang dan otot
e.       Katalisasi bagi aktifitas zat kimia dalam tubuh
4.      Magnesium (Mg)
a.       Metabolisme karbohidrat dan protein
b.      Reaksi enzim
c.       Mempertahankan kalium intrasel
5.      Klorida (Cl)
a.       Bersama Na berperan mempertahankan tekanan osmotik darah
b.      Berperan dalam keseimbangan asam basa
6.      Asam bikarbonat (HCO3)
Menjaga keseimbangan asam basa
7.      Phosfat (PO4)
a.       Membantu mempertahankan keseimbangan asam basa
b.      Penting dalam pembelahan sel
c.       Terlihat dalam reaksi kimia dalam tubuh yaitu :
-          Mengaktifkan vitamin B12
-          Meningkatkan aktifitas syaraf dan otot
-          Metabolisme karbohidrat
8.      Sulfat (SO4)
Menjaga keseimbangan osmolaritas
9.      Protein
Untuk memudahkan dalam proses masuknya zat-zat ke tabung kapiler

C.    Pergerakan Cairan Tubuh Melalui 3 Proses
1.      Difusi
Peristiwa ketika materi padat partikel seperti gula di dalam cairan berpindah dari daerah berkonsentrasi tinggi ke daerah berkonsentrasi rendah, sehingga distribusi partikel dalam cairan merata (melewati membran sel), kecepatan difusi dipengaruhi oleh ukuran molekul konsentrasi larutan dan temperatur.



2.      Osmosis
Peristiwa perpindahan pelarut murni (air) melalui membran semipermeable yang berpindah dari larutan yang berkonsentrasi rendah ke larutan yang berkonsentrasi tinggi yang sifatnya menarik.
3.      Transpor aktif
Memerlukan aktifitas metabolik dan mengeluarkan energi untuk menggerakan berbagai materi dari konsentasi rendah ke konsentrasi tinggi yang menembus membran sel.

D.    Gejala Klinis
1.      Hipovolemik
Suatu kondisi akibat kekurangan Cairan Ekstra Seluler (CES) dan dapat terjadi karena kehilangan cairan dan elektrolit melalui kulit, ginjal, gastrointestinal perdarahan sehingga menimbulkan syok hipovolemik.
Gejala :
-          Pusing
-          Lemah
-          Letih
-          Mual
-          Anoreksia
-          Lidah kering
-          Muntah
-          Rasa haus
-          Oliguria
-          Konstipasi
2.      Hipervolemik
Penambahanan atau kelebihan volume cairan dapat terjadi pada saat :
a.       Stimulasi kronis ginjal untuk menahan natrium dan air
b.      Fungsi ginjal abnormal, dengan penurunan ekskresi dan air
c.       Kelebihan pemberian cairan



d.      Perpindahan cairan intestinal ke plasma
Gejala :
-          Sesak nafas
-          Nadi kuat
-          Acites
-          Edema
-          Adanya ronchi
-          Kulit lembab
-          Distensi vena leher
-          Peningkatan tekanan darah

E.     Masalah Yang Timbul
Dehidrasi
Kekurangan cairan yang disebabkan penurunan asupan cairan dan pengeluaran cairan yang berlebihan. Macam-macam dehidrasi berdasarkan derajatnya.
1.      Dehidrasi ringan
-          Turgor kulit sedikit menurun
-          Takikardi
-          Kehilangan cairan mencapai 5% BB
-          Merasa haus
2.      Dehidrasi sedang
-          Turgor kulit jelas menurun
-          Takikardi
-          Hipertensi (sistolik < 90 mmHg)
-          Kehilangan cairan mencapai 5 – 10% BB
-          Mata cekung
3.      Dehidrasi berat
-          Turgor kulit menurun
-          Hipertensi
-          Oliguria
-          Nadi dan pernafasan meningkat
-          Super koma
-          Kehilangan cairan mencapai 10% BB bahkan lebih
Perhitungan tetesan cairan
  1. Makro : 1 cc = 15 tetes atau 1 cc = 20 tetes (untuk dewasa)
  2. Mikro : 1 cc = 60 tetes (untuk anak-anak)

Senin, 11 Maret 2013

DEFINISI DAN TUJUAN PEMERIKSAAN


DEFINISI :Pemeriksaan tubuh untuk menentukan adanya kelainan dari suatu system atau suatu organ bagian tubuh dengan cara :
         melihat (inspeksi )
         meraba ( palpasi )
         Mengetuk ( perkusi )
         mendengar ( auskultasi ).

TUJUAN PEMERIKSAAN
         Menentukan kelainan fisik yang berhubungan dengan penyakit pasien
         Mengklarifikasi dan memastikan kelainan sesuai dengan keluhan dan riwayat kesehatan pasien
         Mendapatkan data untuk menegakkan diagnosa keperawatan
         Mendapatkan data fisik untuk menetukan status kesehatan pasien

PRINSIP UMUM PEMERIKSAAN
1.  Dilakukan secara sistematis dan komprehensif
2.  Memperhatikan hal-hal :
     Kesopanan
     Komunikasi dengan bahasa mudah dimengerti
     Menjaga hubungan dengan pasien
     Tumbuh kembang pasien
     Sesuai dengan masalah dan kondisi pasien   ( focus )
     Pencahayaan dan lingkungan memadai
3. Dilakukan dengan tepat, aman dan nyaman :
4. Posisi sesuai dengan kebutuhan pemeriksaan
5. Selalu berada disisi kanan pasien
6. Hasil pemeriksaan didokumentasikan secara tepat dan benar

SISTEMATIKA  DAN PENDEKATAN TEHNIK PEMERIKSAAN
pada Umumnya menggunakan 2 pendekatan :
         Pendekatan system tubuh :
     Sistem pernapasan
     System cardiovaskuler
     Sistem pencernaan
     System muskuloskeletal
     Sistem persyarafan dan sensori
     Sistem integumen
     Sistem perkemihan dan genetalia
         Heat toe to toe :
     Kepala dan leher
     Dada dan punggung
     Abdomen
     Kulit dan genetalia
     anggota gerak : Atas dan bawah




TEHNIK PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan dengan 4 cara : Inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi
  •   Inspeksi
memeriksa dengan melihat dan mengingat
  •   Palpasi
dengan perabaan, menggunakan rasa
     propioseptif ujung jari dan tangan.
     Jari telunjuk dan ibu jari à menentukan besar/ukuran
     Jari 2,3,4 bersama à menentukan konsistensi dan kualitas benda
     Jari dan telapak tangan àmerasakan getaran
     Sedikit tekanan à menentukan rasa sakit
  •   Perkusi
Adalah pemeriksaan dengan cara mengetuk permukaan badan dengan cara perantara jari tangan, untuk mengetahui keadaan organ-organ didalam tubuh.
  • Auskultasi
Adalah pemeriksaan mendengarkan suara dalam tubuh dengan menggunakan alat STETOSKOP.

PERSIAPAN PEMERIKSAAN FISIK
PERSIAPAN LINGKUNGAN
         Dilakukan di dalam ruangan dengan alat cukup
         Cahaya cukup
         Ruang kedap suara lebih ideal
         Ruangan cukup hangat dan nyaman
         Pengaturan tempat tidur agar mudah dalam pemeriksaan

PERSIAPAN ALAT
         Alat tersedia, siap pakai dan tersusun bersurutan sesuai dengan kebutuhan.
         Alat-alat pemeriksaan fisik antara lain : Stetoskop, othoskop, spignomanometer, termometer, Spikulum, sudip lidah, Garputala, perkusi hamer, snelen cart, senter ( pen light ), penutup ( selimut kerja ), pita pengukur, jam tangan, sarung tangan, dll
PERSIAPAN FISIK PASIEN
         Pastikan kenyamanan fisik pasien
         Pastikan bahwa pasien memakai penutu dengan baik
         Pastikan bahwa pasien tetap hangat ( merasa nyaman dengan pemeriksaan )
         Atur posisi pasien sesuai dengan kebutuhan pemeriksaan :
     Duduk : tegak (  fowler ), merebah ( semi fowler ), Merunduk
         untuk pemeriksaan Kepala dan leher, punggung, thorak, ketiak, vital sign dan ektremitas.
     Terlentang ( supinasi ) --> kepala ditinggikan 15-30 derajat
         untuk pemeriksaan Kepala dan leher, punggung, thorak, ketiak, vital sign dan ektremitas, abdomen.
     Dorsal rekumbet
         untuk pemeriksaan Kepala dan leher, punggung, thorak, ketiak, abdomen.
     Litotomi
         genetalia dan traktus urianri wanita
     Sims ( miring )
         Rectum
     Tengkurap ( pronasi )
         Otot rangka
     Posisi Lulut dada
         rectum.
PERSIAPAN PSIKOLOGIS PASIEN
         Memulai pemerikasaan dengan menjelaskan prosedur dan tujuan pemeriksaan
         Gunakan dengan bahasa sederhana mudah dipahami
         Beri kesempatan pasien untuk bertanya atau menentukan keperluan yang diinginkan
         Sebaiknya pemeriksa sesuai dengan jenis kelamin pasien
         Monitor respon emosional pasien selama pemeriksaan
         Kaji adanya ketakutan atau kecemasan
         Tidak memaksa klien untuk melaksanakn pemeriksaan.

PEMERIKSAAN KEADAAN UMUM PASIEN
 Keadaan umum menunjukkan kondisi pasien secara umum akibat penyakit atau keadaan yang dirasakan pasien.
 Dilihat secara langsung oleh pemeriksa dan dilakukan penilaian. Yang dapat dilakukan saat kontak pertama, saat wawancara atau selama melakukan pemeriksaan yang lain.
Hal – hal yang perlu dikaji dan dicatat :
         Penampilan umum :
      lemah, sakit akut/kronis.
     Tanda distress : merintih, berkeringat, gemetar
     warna kulit : pucat, sianosis, icterus
     Ekspresi wajah : Tegang, rileks, takut, cemas
         TB dan BB
         TTV
         TINGKAT KESADARAN



TINGKAT KESADARAN
         Secara Kwantitas :
Komposmetis, Apatis, Somnolen, Delirium, Stupor, Supor-koma, Koma
Secara kwantitas Memakai nilai GCS ( Glasgow Coma Scale ) 
     dinilai berdasarkan 3 respon pasien :
    1. Respon membuka mata
    2. Respon verbal
    3. Respon motorik
Cara Penulisan : GCS = MVK = 456
  1. Respon membuka mata  ( nilai 1-4 )
    Cara :
     Dekati pasien dan perhatikan respon membuka mata pasien dan beri stimula si perintah dan nyeri pada pemeriksaan berikutnya :
membuka spontan
3  dengan perintah
2  dengan rangsangan nyeri
1  dengan nangsangan nyeri tidak membuka mata
  1. Respon verbal ( nilai 1-5 )
     Cara :
     Tanyakan kepada pasien dengan pertanyaan mudah dan sederhana :
 5  orientasi baik ( sesuai pertanyaan dan kalimat baik )
 4  tidak sesuai dengan pertanyaan, struktur kalimat baik
 3  struktur kalimat kacau
 2  hanya bersuara
 1  tidak bersuara
  1. Respon motorik ( nilai 1 – 6 )
     Cara :
     Perintahkan pasien untuk menggerakkan tangan dan beri stimulasi nyeri pada
     pemeriksaan berikutnya :
6  dapat menggerakkan  tangan sesuai perintah
5  Melokalisir dengan stimulasi
4  Menghindar/ menolak / meronta dengan stimulasi
3  Fleksi dengan stimulasi
2  Ekstensi dengan stimulasi
1  Tidak ada respon

VITAL SIGN
         Tekanan Darah
     Dengan mengunakan spignomanometer
Korokrof 1 à systolik
Korokrof 4 à dyastolik
Normal 100-140/70-90 mmHg
         Nadi / HR
Dilakukan dengan meraba nadi : Radialis, brachialis, karotis, maleolus lateraris, dorsalis pedis.
Hal yang diperhatikan : Frekwensi, kuat lemah, Irama.
Normal 60 – 100 X/mnt
         RR
     Dengan cara menghitung gerak napas selama 1 menit
     Hal yang perlu diperhatikan : Frekwensi, irama dan kedalaman.
     Normal 16 – 24 X/mnt
         SUHU
     Dengan menggunakan termometer
     Tempat pengukuran : axila, rectar, oral
     Normal 36,5 – 37,5 derajat C